tunjangan hari raya

Cara Menghitung Tunjangan Hari Raya yang Benar, Pengusaha Wajib Tahu!

0 views

Menjelang hari raya akan ada banyak hal yang perlu disiapkan oleh sebuah perusahaan. Ya, salah satunya adalah mempersiapkan tunjangan hari raya. Cara menghitung tunjangan hari raya pun menjadi hal yang wajib diketahui oleh para pengusaha. Ada aturan yang perlu dijadikan acuan dalam menghitung jumlah uang yang perlu diberikan kepada karyawan. Maka dari itu, para pengusaha tak boleh sembarangan menentukan jumlahnya. Ada beberapa poin penting yang harus mereka pahami.

Karena sudah ada aturan jumlah THR yang harus diberikan, maka perusahaan harus menghitung sesuai dengan aturan yang ada. Sebab jika tidak, akan ada denda yang diberikan oleh pemerintah. Namun kabar baiknya, ada juga beberapa perusahaan yang justru memberikan uang THR melebihi jumlah yang semestinya. Bisa 2 sampai 3 kali lipat gaji. Hal tersebut tentu sangat baik dilakukan, apalagi jika diberikan pada karyawan yang pengabdiannya sudah cukup lama di perusahaan. Adapun ketentuan THR semacam itu biasanya tertuang di Peraturan Perusahaan atau Perjanjian Kerja Bersama. Nah, untuk mengetahui lebih jauh mengenai cara menghitun THR, simak ulasan berikut ini ya.

Pengertian dan Pentingnya Tunjangan Hari Raya

tunjangan hari raya

Tunjangan Hari Raya atau sering disebut THR sudah diatur oleh pemerintah dalam Peraturan Menteri Ketenagakerjaan. Peraturan tersebut tertuang dalam Peraturan nomor 6/2016 tentang Tunjangan Hari Raya (THR). Di dalam Peraturan Menteri tersebut disebutkan bahwa THR merupakan pendapatan yang harus diberikan oleh pengusaha kepada pekerja/buruh atau pun keluarganya menjelang datangnya Hari Raya Keagamaan.

Adapun THR Idul Fitri diberikan untuk karyawan dengan agama Islam, THR Natal untuk karyawan beragama Kristen, THR Waisak untuk karyawan beragama Budha, THR Nyepi untuk yang beragama Hindu, dan THR Imlek untuk mereka yang beragama Konghucu. THR tiap tahunnya diberikan kepada karyawan minimal setelah mereka bekerja selama satu bulan.

THR Keagamaan juga akan diberikan kepada karyawan sebuah perusahaan yang memiliki hubungan kerja berdasarkan perjanjian kerja waktu tidak tertentu (PKWTT) atau perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT) dengan pengusaha. Kemudian, setiap tahun juga akan ada Surat Edaran  terkait dengan pelaksanaan THR Keagamaan yang dikeluarkan oleh Kementerian Ketenagakerjaan. Seperti pada tahun 2021, di mana Kemenaker menerbitkan SE bernomor M/6/HK.04/IV/2021.

Waktu untuk Memberikan THR

THR umumnya diberikan kepada karyawan selambat-labatnya 7 hari sebelum perayaan Hari Raya. Hal tersebut telah diatur oleh pemerintah. Tujuannya supaya karyawan dapat memenuhi kebutuhannya sebelum tiba hari raya. Sebab menjelang hari raya, setiap orang pasti membutuhkan uang lebih untuk memenuhi berbagai hal. Baik itu untuk kebutuhan makanan, mudik atau pulang kampung, ampau untuk saudara, dan kebutuhan lainnya. Nah, apabila peraturan waktu pemberian THR tersebut dilanggar, maka pemerintah akan mengenakan denda bagi perusahaan.

Hal tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Pasal 10 No 6 th 2016 tentang THR. Denda yang diberikan adalah sebesar 5% dari jumlah THR yang seharusnya diberikan. Adapun tujuan adanya denda adalah untuk kesejahteraan karyawan sendiri. Tentu saja dengan adanya denda semacam ini, diharapkan setiap perusahaan dapat memberikan THR kepada para karyawannya tepat waktu. Dengan begitu, kesejahteraan dan hak karyawan juga dapat terpenuhi.

Jumlah THR yang Harus Diberikan kepada Karyawan

Jumlah uang yang harus diberikan oleh perusahaan kepada setiap karyawan tidaklah sama. Karyawan tetap yang sudah bekerja di sebuah perusahaan selama bertahun-tahun tentu mendapatkan tunjangan hari raya yang berbeda dengan karyawan kontrak. Sebab biasanya karyawan kontrak hanya bekerja sesuai perjanjian, bisa 3  bulan, 5 bulan, atau 7 bulan. Maka dari itu, THR yang akan mereka terima juga sesuai dengan jumlah jam kerjanya. Berdasarkan Permenaker No 6 th 2016 Pasal 3 ayat 1, besarnya THR ditetapkan sebagai berikut :

  1. Pekerja atau buruh dengan masa kerja 12 bulan berturut-turut atau lebih besarnya sama dengan upah 1 bulan
  2. Pekerja atau buruh dengan masa kerja 1 bulan berturu-turut namun kurang dari 12 bulan akan diberikan THR secara proporsional dengan perhitungan masa kerja : 12 dikalikan 1 bulan upah.

Cara Menghitung THR

Sesuai dengan Permenaker di atas, pekerja yang bekerja satu tahun penuh (12 bulan) akan mendapat tunjangan hari raya yang berbeda dengan karyawan yang memiliki masa kerja kurang dari satu tahun. Hal tersebut tentu memang sudah seharusnya diatur. Mereka yang memiliki masa kerja lebih lama, tentu akan mendapat tunjangan yang jauh lebih besar. Nah, untuk mengetahui cara menghitungnya, berikut contohnya.

1. Contoh 1

Seorang karyawan telah bekerja di perusahaan selama 5 tahun. Ia mendapatkan gaji pokok sebesar Rp. 5.000.000. Adapun tunjangan anak sebesar 560.000, lalu tunjangan perumahan sebesar 240.000, dan tunjangan makan dan transport sebesar Rp 1.700.000. Adapun cara menghitung THR nya adalah sebagai berikut:

Pekerja yang telah melewati masa kerja satu tahun (12 bulan) lebih THR nya sebesar 1 x upahnya per bulan. Nah, upah yang dimaksud di sini adalah gaji pokok ditambah dengan tunjangan tetap. Jadi, THRnya yaitu :

  • Gaji pokok : Rp 5.000.000
  • Tunjangan tetap : Rp 560.000 + Rp 240.000 = Rp 800.000

Alasan tidak dimasukkannya tunjangan transport dan makan karena tunjangan tersebut diberikan kepada karyawan secara tidak tetap. Yaitu bergantung dengan kehadiran karyawan ke tempat kerja. Jika mereka tidak hadir, maka tunjangan pun tidak diberikan. Itulah mengapa tunjangan tersebut tidak masuk ke upah.

Jadi, untuk THR yang berhak diterima karyawan tersebut ialah sebagai berikut:

1 x ( Rp 5.000.000 + Rp 800.000) = Rp 5.800.000

Berdasarkan perhitungan di atas, dapat disimpulkan bahwa pekerja tersebut berhak mendapatkan tunjangan hari raya sebesar Rp 5.800.000.

2. Contoh 2

Seorang karyawan di PT Maju Jaya bernama Sofi telah bekerja kontrak. Masa kontrak kerjanya selama 7 bulan. Di PT Maju Jaya, Sofi memperoleh upah pokok sebesar Rp 2.500.000. Kemudian ia juga mendapatkan tunjangan jabatan sebesar Rp 500.000. Lalu ada pula tunjangan transportasi yang diperoleh sebanyak Rp 400.000. Dan masih ada tunjangan makan sebesar Rp 500.000.

Dari pernyatan di atas, dapat diketahui bahwa Sofi belum bekerja selama satu tahun penuh. Jadi, cara menghitung THR nya pun berbeda dengan cara pertama. Nah, untuk mengetahui caranya, simak penjelasan berikut ya.

Penghitungan THR : masa kerja : 12 x upah 1 bulan (terdiri dari tunjangan pokok + tunjangan tetap)

Besar Gaji Pokok : Rp 2.500.000

Besar tunjangan tetap : Rp 500.000 (tunjangan jabatan)

Sama seperti contoh sebelumnya, tunjangan yang dipakai adalah tunjangan yang sifatnya tetap. Adapun tunjangan transportasi dan tunjangan makan termasuk yang tidak tetap, karena diberikan berdasarkan kehadiran setiap karyawan di kantor. Jadi, untuk menghitung besarnya THR caranya adalah:

7/12 x Rp 2.500.000 + Rp 500.000 = 7/12 x Rp 3.000.000 = Rp 1.750.000

Hasilnya adalah 1.750.000. Jadi, THR yang harus dibayarkan oleh pengusaha kepada Sofi adalah sebesar Rp 1.750.000.

Nah, itulah tadi beberapa cara menghitung tunjangan hari raya yang benar berdasarkan peraturan Kementerian Ketenagakerjaan. Sebagai seorang pengusaha yang baik, tentu Anda harus melakukan perhitungan dengan tepat. Sebab karyawan adalah aset utama sebuah perusahaan. Maka selain memberikan gaji serta tunjangan dalam jumlah seharusnya, Anda juga harus memperhitungkan hak karyawan untuk mendapat THR dengan semestinya. Jangan sampai ada karyawan yang melakukan protes karena ketidakadilan pembagian THR.

 

Gallery for Cara Menghitung Tunjangan Hari Raya yang Benar, Pengusaha Wajib Tahu!